Kelola 4.394 Satuan Pendidikan, Ma’arif NU Jateng Dorong Integrasi Tata Kelola

Para narasumber mengikuti Seminar Pendidikan tentang Transformasi dan Integrasi Tata Kelola Pendidikan Ma’arif NU di Temanggung, Selasa (13/10/2026).
Temanggung, Bestarinesia.Id – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Jawa Tengah mendorong transformasi tata kelola pendidikan yang lebih terintegrasi, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat koordinasi antarlembaga, menyelaraskan standar pendidikan, dan menjaga nilai Ahlussunnah waljamaah An-Nahdliyah.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. H. Fakhruddin Karmani, S.Pd.I., M.S.I., dalam Seminar Pendidikan bertajuk “Transformasi dan Integrasi Tata Kelola Pendidikan Ma’arif NU” di Hall Babussalam NU Temanggung, Selasa (13/10/2026).
Seminar yang diselenggarakan LP Ma’arif NU PCNU Temanggung itu merupakan bagian dari peringatan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus Harlah ke-97 LP Ma’arif NU.
Fakhruddin menilai, salah satu tantangan pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama ialah tata kelola yang masih terfragmentasi. Sejumlah lembaga pendidikan berjalan dengan pengelolaan dan standar yang beragam sehingga membutuhkan koordinasi yang lebih kuat.
Menurut dia, pendidikan NU perlu dikembangkan sebagai ekosistem pembelajaran terpadu yang menghubungkan berbagai jenjang dan jenis pendidikan dalam satu arah pengembangan.
“Transformasi ini penting untuk membangun ekosistem pembelajaran yang terintegrasi, sehingga seluruh lembaga pendidikan NU bergerak menuju tujuan jam’iyah yang sama dengan berlandaskan Ahlussunnah waljamaah An-Nahdliyah,” demikian pokok gagasan yang disampaikan dalam seminar tersebut.
Integrasi Pendidikan dari PAUD hingga Perguruan Tinggi
Untuk memperkuat tata kelola, Fakhruddin mengacu pada Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 13 Tahun 2023 tentang Sistem Pendidikan Nahdlatul Ulama (SISDIKNU).
Dalam model yang ditawarkan, pembagian peran antarlembaga menjadi bagian penting dari integrasi pendidikan NU. Muslimat NU berperan dalam pendidikan anak usia dini, LP Ma’arif NU menangani pendidikan dasar dan menengah, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU berfokus pada pendidikan pesantren dan keagamaan, sedangkan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) menangani pendidikan tinggi sesuai kewenangannya.
Pembagian tersebut diharapkan membangun kesinambungan pendidikan, mulai dari penguatan fondasi keagamaan pada usia dini, pendidikan dasar dan menengah, pendalaman ilmu keislaman di pesantren, hingga pengembangan keahlian profesional dan akademik di perguruan tinggi.
Integrasi itu juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antara jamaah dan jam’iyah serta menjaga nilai ke-NU-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Fakhruddin turut menjelaskan sejumlah pedoman yang menjadi rujukan penguatan tata kelola, di antaranya keputusan LP Ma’arif NU PBNU Nomor 147 Tahun 2025 tentang Pedoman Tata Kelola LP Ma’arif NU, Nomor 139 Tahun 2025 tentang Pedoman Sistem Data dan Layanan Administrasi, serta Nomor 680 Tahun 2024 tentang Pedoman Kurikulum Aswaja NU.
Tata Kelola Sekolah Diperkuat
Salah satu aspek yang disoroti ialah peran Badan Pelaksana Penyelenggaraan Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (BPPPMNU) dalam penyelenggaraan satuan pendidikan.
Dalam pemaparannya, Fakhruddin menjelaskan mekanisme kewenangan pengelolaan pendidikan, termasuk pengangkatan kepala satuan pendidikan melalui mekanisme yang melibatkan pengurus NU sesuai tingkatannya dan proses seleksi serta penilaian oleh LP Ma’arif NU.
Sementara itu, pengangkatan dan pemberhentian guru serta tenaga kependidikan oleh BPPPMNU dilakukan berdasarkan persetujuan tertulis LP Ma’arif NU.
Penataan tersebut diharapkan memperjelas pembagian kewenangan sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sekolah serta madrasah di bawah naungan Ma’arif NU.
Ribuan Sekolah dan Ratusan Ribu Siswa
Besarnya skala pengelolaan pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah menjadi salah satu alasan pentingnya integrasi tata kelola.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam seminar, pada tahun pelajaran 2026/2027 LP Ma’arif NU Jawa Tengah mengelola 4.394 satuan pendidikan, dengan rincian 3.577 madrasah dan 664 sekolah umum maupun sekolah luar biasa. Lembaga tersebut didukung 55.727 guru dan membina 562.839 murid.
Adapun di Kabupaten Temanggung, terdapat 170 satuan pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU.
Dengan jumlah lembaga, pendidik, dan peserta didik tersebut, penguatan sistem administrasi, data pendidikan, peningkatan kompetensi guru, dan penyelarasan program menjadi bagian penting dalam pengembangan organisasi.
Fakhruddin juga memaparkan sepuluh program prioritas LP Ma’arif NU Jawa Tengah. Program tersebut mencakup penguatan ideologi Aswaja An-Nahdliyah, implementasi SISDIKNU, digitalisasi layanan dan pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, serta pendampingan satuan pendidikan melalui program sister school.
Program lainnya meliputi penguatan literasi, numerasi, dan pendidikan inklusif; beasiswa studi lanjut; magang bagi guru dan peserta didik; peningkatan kemampuan bahasa Inggris melalui kerja sama dengan Pearson UK; penyelenggaraan olimpiade dan kompetisi; penguatan pendidikan vokasi melalui LSP P2 Ma’arif Jateng yang berlisensi BNSP; serta pengembangan Balai Diklat Ma’arif.
Dorong Kompetensi Guru dan Peluang Lulusan
Di bidang vokasi dan internasionalisasi, Fakhruddin menyampaikan bahwa LP Ma’arif NU Jawa Tengah telah memberangkatkan 175 lulusan SMK ke Jepang melalui kolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI dan IM Japan.
LP Ma’arif NU Jawa Tengah juga memfasilitasi perkuliahan jenjang S1 di China serta memberikan beasiswa melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada jenjang S1, S2, dan S3 bagi lebih dari 800 guru dan kepala sekolah.
Program-program tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan Ma’arif tidak hanya diarahkan pada penguatan ideologi dan tata kelola, tetapi juga peningkatan kompetensi pendidik serta perluasan kesempatan belajar dan bekerja bagi lulusan.
Fakhruddin menegaskan, penggunaan buku pegangan ke-NU-an, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, serta penggunaan seragam Batik Ma’arif perlu dipahami dalam kerangka penguatan identitas dan ideologi organisasi, bukan semata-mata sebagai persoalan bisnis.
Menurut dia, pendidikan Ma’arif memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai Ahlussunnah waljamaah An-Nahdliyah sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Temanggung Berharap Daya Saing Meningkat
Ketua PCNU Temanggung KH. Muchamad Nurul Yaqin, yang akrab disapa Gus Nurul Yaqin, berharap seminar tersebut dapat memperjelas tata kelola sekolah dan madrasah di bawah LP Ma’arif NU Temanggung.
Kejelasan tata kelola, menurut dia, diharapkan menjadi landasan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing satuan pendidikan.
Seminar tersebut juga menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Temanggung Djoko Prasetyo serta perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung, Muhammad Soleh Mubin. Diskusi dipandu Wakil Rektor I INISNU Temanggung Andrian Gandi Wijanarko.
Hadir pula Ketua LP Ma’arif NU PCNU Temanggung Miftakhul Hadi, Rektor INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda, serta ratusan peserta.
Melalui seminar ini, LP Ma’arif NU Temanggung diharapkan dapat menindaklanjuti gagasan integrasi tersebut ke dalam pengelolaan sekolah dan madrasah. Dengan tata kelola yang lebih jelas, koordinasi yang kuat, dan program peningkatan mutu yang berkelanjutan, pendidikan Ma’arif NU diharapkan semakin mampu menjawab kebutuhan masyarakat. (*)
