Mahasiswa KKN UNS Dorong Digitalisasi UMKM Melalui Workshop Pemasaran Kandang Bambu di Desa Bandungan

Mahasiswa bersama pengrajin kandang bambu berfoto seusai pendampingan digitalisasi usaha dengan menunjukkan produk yang sudah dibuat dan browsur
Bestarinesia.id, Klaten — Kerajinan kandang ayam berbahan bambu di Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, selama ini lebih banyak dipasarkan melalui jaringan dari mulut ke mulut dan pengepul. Potensi kerajinan yang dibuat secara turun-temurun itu kemudian mulai diarahkan ke pemasaran digital oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Workshop Pemberdayaan Digitalisasi UMKM Kandang Bambu yang telah digelar mahasiswa KKN UNS Tim 136 pada Selasa (14/7/2026).
Program yang diinisiasi Aurora Dixffin, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Septi Yulisetiani, M.Pd., tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi kerajinan lokal kepada pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital.
Desa Bandungan memiliki kerajinan kandang ayam berbahan bambu yang dikerjakan secara turun-temurun. Sebagian pengrajinnya merupakan ibu-ibu lanjut usia yang selama ini mengandalkan keterampilan manual dalam proses produksi.
Hasil kerajinan tersebut kemudian dikumpulkan oleh pengepul untuk dipasarkan secara konvensional. Jangkauan pemasaran masih banyak bergantung pada jaringan pelanggan dan pasar di sekitar wilayah Solo Raya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN UNS. Keterbatasan penguasaan teknologi digital membuat para pengrajin belum banyak bersentuhan langsung dengan pemasaran melalui platform daring.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UNS Tim 136 yang beranggotakan 10 orang memilih pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi para pengrajin.
Alih-alih memaksa pengrajin yang sebagian sudah lanjut usia untuk mengoperasikan perangkat digital, mahasiswa menjadikan pengepul sebagai mitra strategis yang dapat menjadi penghubung antara pengrajin dan pasar daring.
Workshop dikemas dengan bahasa sederhana dan komunikatif. Mahasiswa juga membagikan browsur bergambar berukuran besar agar materi lebih mudah dipahami oleh para pengrajin.

Pendampingan tidak berhenti pada penyampaian materi. Mahasiswa membantu pengepul membuat akun media sosial resmi TikTok dengan nama pengguna @kandangbambupremium serta menyusun katalog produk digital.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi kerajinan kandang bambu Desa Bandungan untuk diperkenalkan kepada calon konsumen di luar wilayah pemasaran selama ini.
Pak Purwadi, salah satu pengepul kandang bambu di Desa Bandungan, menyambut positif pemanfaatan media sosial untuk pemasaran.
“Saya sangat tertarik dan pasti akan merasa terbantu dengan adanya media sosial. Selama ini kan kita hanya memasarkan secara manual dari mulut ke mulut atau sekitar Solo saja. Kalau pakai media sosial seperti ini, rasanya jangkauan bisa lebih luas. Jadi, orang luar bisa tahu produk kerajinan warga sini,” ujar Purwadi kepada mahasiswa KKN.
Selain mengikuti workshop, mahasiswa KKN juga berinteraksi langsung dengan para pengrajin melalui praktik pembuatan kandang ayam bambu selama sekitar tiga jam.
Kegiatan tersebut dimanfaatkan mahasiswa untuk melihat secara langsung proses produksi sekaligus menggali aspirasi, kendala, dan harapan para pengrajin.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena digitalisasi pemasaran tidak dimaksudkan untuk mengubah keterampilan tradisional yang sudah dimiliki masyarakat. Teknologi justru digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan hasil kerajinan kepada calon pembeli yang lebih luas.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menjembatani antara keterampilan tradisional ibu-ibu pengrajin dengan kemajuan teknologi pemasaran modern. Pengepul kami fasilitasi dengan akun TikTok resmi dan katalog produk agar jangkauan pasar kandang bambu Desa Bandungan semakin luas, sementara para pengrajin tetap termotivasi menjaga kualitas produksinya,” ujar Aurora selaku penanggung jawab program.

Program tersebut juga mendapat sambutan dari Pemerintah Desa Bandungan. Pemerintah desa menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti pembinaan UMKM kerajinan bambu melalui program pemberdayaan ekonomi desa serta membantu promosi melalui jaringan informasi resmi desa.
Ke depan, akun TikTok dan katalog digital yang telah dirintis diharapkan dapat dikelola secara mandiri oleh mitra. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, media digital tersebut dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kerajinan kandang bambu Bandungan kepada pasar di luar wilayah Solo Raya.
Bagi masyarakat Desa Bandungan, digitalisasi bukan sekadar memindahkan cara berjualan ke media sosial. Langkah tersebut menjadi upaya mempertemukan keterampilan kerajinan yang diwariskan antargenerasi dengan perubahan pola pemasaran di era digital.
Editor: Azis
