Mahasiswa KKN UNS Lestarikan Budaya Jawa melalui Pelatihan Pambiwara dan Workshop Karawitan di Desa Bandungan

Mahasiswa dan peserta berfoto bersama Aldi Hamid (penggiat seni khususnya karawitan) yang menjadi narasumber
Bestarinesia.id, Klaten — Pelestarian budaya Jawa tidak cukup dilakukan dengan mengenalkan tradisi, tetapi perlu memberi ruang kepada generasi muda untuk mempraktikkannya. Hal itu dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 136 melalui pelatihan pambiwara dan workshop karawitan di Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten.
Dua program tersebut menyasar pemuda Karang Taruna dan kelompok belajar seni Desa Bandungan. Kegiatan dirancang untuk mengenalkan kembali budaya tutur, etika berkomunikasi, seni pambiwara, serta karawitan sekaligus menanamkan nilai karakter seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, dan saling menghargai.
Program pertama berupa Peningkatan Kearifan Lokal melalui Pembelajaran Budaya Tutur dan Etika Berkomunikasi terlaksana pada Minggu (26/7) di Gedung Srikandhi dengan peserta anggota Karang Taruna Desa Bandungan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN menghadirkan Kent Fauzan Suryo Rambeli, praktisi pambiwara lokal, untuk memberikan pelatihan mengenai peran pambiwara dalam berbagai kegiatan adat Jawa.
Materi mencakup tata krama berbahasa Jawa, unggah-ungguh dalam berkomunikasi, teknik berbicara di depan umum, hingga penyusunan susunan acara menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar.
Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berkesempatan mempraktikkan langsung cara menjadi pambiwara. Penampilan peserta kemudian dievaluasi dan diberikan masukan oleh narasumber.
“Melalui pelatihan ini kami berharap anggota karang taruna tidak hanya memahami tata cara menjadi pambiwara, tetapi juga mampu menerapkan etika berkomunikasi yang santun dalam berbagai kegiatan masyarakat. Budaya tutur merupakan bagian penting dari identitas budaya yang perlu terus dilestarikan oleh generasi muda,” ujar Nurul Sofi Mardani, mahasiswa Program Studi Sastra Daerah sekaligus salah satu penanggung jawab program, kepada uns.ac.id pada 26 Juli 2026.

Upaya pelestarian budaya kemudian dilanjutkan melalui Workshop Pelestarian Seni Tradisional sebagai Upaya Penguatan Karakter Masyarakat Desa Bandungan pada Kamis (29/7) di Griya Karawitan Setyo Laras.
Kegiatan tersebut melibatkan kelompok belajar seni Desa Bandungan dengan menghadirkan Aldi Hamid, penggiat seni khususnya karawitan, sebagai narasumber.
Peserta mendapatkan pengenalan mengenai seni karawitan dan pentingnya menjaga keberlangsungan seni tradisional Jawa di tengah perkembangan zaman. Mereka juga diajak mengapresiasi karawitan tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari budaya yang mengandung nilai-nilai kehidupan.
Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik memainkan gamelan. Peserta diperkenalkan pada fungsi masing-masing instrumen dalam satu perangkat karawitan dan diajak memainkan gamelan secara langsung.
Melalui praktik tersebut, peserta belajar mengenai kedisiplinan dalam mengikuti irama, tanggung jawab terhadap peran masing-masing, kerja sama antarpemain, serta pentingnya saling menghargai untuk menghasilkan permainan yang selaras.
Mahendra Bimo Yudhanto, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa sekaligus penanggung jawab program, mengatakan seni karawitan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan.
“Kami berharap workshop ini mampu meningkatkan apresiasi masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap seni karawitan sehingga masyarakat semakin terdorong untuk ikut melestarikan budaya tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terlihat dalam kedua kegiatan tersebut. Pemuda Karang Taruna aktif mengikuti praktik pambiwara, sementara kelompok belajar seni turut berpartisipasi dalam praktik karawitan.
Mahasiswa KKN UNS juga memberikan apresiasi kepada peserta pada akhir kegiatan sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka selama workshop.
Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN UNS Kelompok 136 yang beranggotakan 10 orang dalam mendorong pelestarian budaya berbasis masyarakat.
Melalui keterlibatan generasi muda dalam budaya tutur, seni pambiwara, dan karawitan, mahasiswa berharap pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh tidak berhenti selama kegiatan KKN berlangsung. Tradisi tersebut diharapkan tetap dipraktikkan dalam berbagai kegiatan masyarakat Desa Bandungan dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor: Azis
