Atasi Sampah dari Lingkungan, KKN Undip Hadirkan Tungku Pembakaran Beremisi Rendah di Kelurahan Cebongan

0
WhatsApp-Image-2026-08-13-at-9.26.12-PM

Atasi Sampah dari Lingkungan, KKN Undip Hadirkan Tungku Pembakaran Beremisi Rendah di Kelurahan Cebongan 

Persoalan sampah di Kota Salatiga yang semakin genting dengan rencana ditutupnya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ngronggo mendorong berbagai pihak untuk mencari alternatif pengelolaan sampah yang dapat dilakukan mulai dari tingkat masyarakat. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro di Kelurahan Cebongan, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga menghadirkan inovasi berupa tungku pembakaran beremisi rendah sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah anorganik di tingkat lingkungan.

Inovasi tersebut merupakan bagian dari program kerja multidisiplin bertajuk “Optimalisasi Pengelolaan Sampah Anorganik melalui Inovasi Tungku Pembakaran Beremisi Rendah.” Program ini dirancang sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), khususnya untuk sampah anorganik yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Rangkaian kegiatan KKN ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui inovasi tungku pembakaran beremisi rendah, masyarakat tetap dapat mengelola sampah melalui metode pembakaran yang telah dikenal dalam keseharian, namun dengan sistem pembakaran yang lebih terkontrol. Inovasi ini diharapkan dapat membantu mengurangi emisi dan polusi yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka, sekaligus mendorong pengelolaan sampah anorganik yang lebih bertanggung jawab di tingkat masyarakat. 

Melalui program tersebut, kelompok KKN mengembangkan satu prototype tungku pembakaran minim asap yang dapat digunakan sebagai alternatif pengelolaan sampah anorganik di tingkat lingkungan. Tungku dibuat menggunakan drum berbahan besi atau logam yang dimodifikasi dengan lubang-lubang sirkulasi udara pada bagian bawah dan atas. Rancangan tersebut memungkinkan adanya aliran oksigen yang lebih optimal selama proses pembakaran.

Sistem sirkulasi udara tersebut menjadi bagian penting dalam rancangan tungku. Dengan memaksimalkan pasokan oksigen selama proses pembakaran, pembakaran diharapkan dapat berlangsung lebih sempurna sehingga menghasilkan asap pekat yang lebih sedikit dibandingkan pembakaran terbuka. Dengan demikian, tungku ini diharapkan dapat menjadi alternatif yang lebih terkontrol dalam pengelolaan sampah anorganik di lingkungan masyarakat.

Tidak berhenti pada pembuatan prototype, mahasiswa KKN juga melibatkan masyarakat dalam proses pengenalan dan penggunaan tungku. Demonstrasi pembakaran sampah anorganik dilakukan bersama warga untuk menunjukkan secara langsung cara penggunaan tungku sekaligus memberikan gambaran mengenai proses pembakaran yang lebih terkontrol.

Prototype tungku kemudian diserahkan kepada RW 02 Kelurahan Cebongan untuk dijadikan percontohan bagi lingkungan lainnya. Penyerahan dilakukan pada Senin malam (27/7), bertepatan dengan pelaksanaan kegiatan Saparan di RW 02. Mahasiswa KKN turut menjelaskan cara kerja dari tungku dan mendapat sambutan baik dari warga yang turut menyaksikan proses demonstrasi.

Penempatan prototype di RW 02 diharapkan tidak hanya menjadi solusi alternatif bagi pengelolaan sampah di wilayah tersebut, tetapi juga menjadi contoh yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh RW lain di Kelurahan Cebongan. Dengan adanya percontohan secara langsung, masyarakat dapat melihat penerapan inovasi pengelolaan sampah sekaligus mempertimbangkan kemungkinan penerapannya sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi KKN Undip dalam mendukung upaya pengelolaan sampah yang lebih mandiri di tingkat masyarakat. Di tengah kebutuhan untuk mengurangi sampah yang dibuang ke TPS, inovasi tungku pembakaran beremisi rendah diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah anorganik yang lebih terkontrol dan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *