MAHASISWA KKN-T IDBU 32 UNDIP SULAP POTENSI KERANG DARAH DAN KEPITING BAKAU MELALUI SISTEM BUDIDAYA TERINTEGRASI DI DUKUH TAMBAK GOJOYO, DEMAK

0
WhatsApp-Image-2026-08-20-at-11.42.28-PM

KABUPATEN DEMAK — Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 32 Universitas Diponegoro (UNDIP) resmi menjalankan serangkaian program kerja multidisiplin di Dukuh Tambak Gojoyo, Desa Wedung, Kabupaten Demak, pada Senin (27/7/2026) hingga Jumat (14/8/2026). Mengusung tema besar “Penerapan Budidaya Terintegrasi Kepiting dan Kerang Darah untuk Peningkatan Produktivitas Tambak”, 15 mahasiswa lintas fakultas merancang solusi yang saling terhubung, dari perbaikan sistem budidaya hingga hilirisasi produk dan penguatan payung hukum bagi petambak.

Langkah ini diawali oleh Anisa Nur Azizah melalui program “Floating Crab Apartemen”. Melalui sistem kompartemen box terapung ini, rekayasa wadah dirancang secara horizontal untuk memaksimalkan ruang permukaan tambak guna menekan sifat kanibalisme kepiting tanpa mengganggu area dasar perairan. Langkah efisiensi ruang tersebut disinergikan langsung secara polikultur oleh Novan Banu Laksono melalui program Budidaya Kerang Darah (Anadara granosa) Terintegrasi.

Guna mendukung aspek nutrisi sistem tersebut, Handika Nur Ramadan hadir memberikan inovasi pakan melalui program Pemanfaatan Potensi Lokal Keong Bakau (Telescopium telescopium) sebagai Pakan Alternatif Penggemukan Kepiting. Formulasi pakan berbasis keong bakau segar ini terbukti efektif mendongkrak laju pertumbuhan bobot harian kepiting dan mudah didapatkan warga secara gratis di sekitar ekosistem mangrove. 

Siklus produksi harian ini dikawal ketat melalui program Sosial Kemasyarakatan berupa pendampingan berkala pada kegiatan monitoring kualitas air, pertumbuhan dan kesehatan, serta manajemen pakan harian bersama kelompok tani.

Inovasi lain hadir pada tahap pascapanen. Ketika proses penyortiran kerang darah masih dilakukan secara manual, Pinaring Ayu Prasetya hadir dengan Rancang Bangun Alat Sortir (Grading) Kerang Darah untuk mempermudah proses pemilahan dan meningkatkan efisiensi kerja pembudidaya. 

Di balik proses budidaya dan panen tersebut, kesehatan kepiting dan kualitas air tambak menjadi kunci. Seplin Nabilla dan Berliannacova Ervebriano membangun EduCrab, sebuah website panduan digital dengan dua fitur yang saling berkaitan sebab-akibat: informasi mengenai penyakit kepiting bakau, mulai dari gejala, pencegahan, hingga pengobatan, serta panduan kualitas air tambak berdasarkan baku mutu dan rujukan jurnal. Dilengkapi kode QR untuk akses cepat, EduCrab dapat menjadi panduan praktis yang bisa diakses langsung oleh pembudidaya saat berada di tambak. Untuk mengenal lebih jauh berbagai informasi dan panduan yang tersedia, EduCrab dapat diakses melalui tautan berikut: https://educrab.my.canva.site/

Hasil panen yang sudah tersortir pun berlanjut ke tahap hilirisasi. Veronika Cindy Clara Erisca mengolahnya menjadi “Kedara Fritters”, perkedel kerang darah bergizi tinggi sebagai alternatif lauk sehat, sementara Adinda Anggraini menghadirkan “Keranggo”, sambal kerang darah yang berpotensi menjadi peluang usaha rumahan bagi ibu-ibu setempat. 

Tak berhenti pada hasil olahan, limbah yang dihasilkan pun turut dimanfaatkan. Hidhayah Anggun Tri Wulandari mengolah cangkang kerang menjadi “EcoShell Paving”, substitusi agregat halus untuk paving block yang bernilai jual, sementara Alvaro Zulfikar menyulap limbah sedimen tambak menjadi briket sebagai alternatif bahan bakar yang lebih bernilai guna dan ramah lingkungan.

Rantai budidaya ini turut ditopang sejumlah program pendukung yang saling mengisi celah. Ziqril Raudotul Ma’ayisya menyosialisasikan metode budidaya kerang darah sekaligus menyusun buku saku panduannya; Ibrahim Chandraputra Tristama memetakan lokasi budidaya paling sesuai lewat Sistem Informasi Geografis (SIG); Namus Akbar Yulistiadi memberi pemahaman hukum lewat Legal Risk Assessment atas ancaman rob dan abrasi; Muhammad Syarif Khoirun Nuzula mengedukasi penerapan akad mudharabah dan salam agar transaksi usaha tambak sesuai prinsip syariah; dan Nazmie Firrahnadzir mendokumentasikan kearifan lokal petambak senior agar tidak hilang ditelan waktu.

Ketua tim menjelaskan seluruh program dirancang berdasarkan observasi langsung dan wawancara dengan warga serta Kelompok Tani, agar tiap solusi benar-benar menjawab kebutuhan lapangan sejalan dengan sejumlah target SDGs mulai dari ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, inovasi infrastruktur, hingga pelestarian ekosistem laut. Rangkaian sosialisasi, pelatihan, dan demonstrasi ini menghasilkan produk fisik, media edukasi digital, buku panduan, hingga dokumentasi media sosial, dan disambut antusias warga Gojoyo yang menilai program ini membawa solusi konkret bagi persoalan yang selama ini mereka hadapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *