Ketika Sikat Gigi Menjadi Budaya: Catatan Antropologi Kesehatan dari SD Negeri Kaliyoso
Berita ini mengangkat pengalaman pelaksanaan program edukasi kesehatan gigi dan mulut di SD Negeri Kaliyoso, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, yang dilakukan dalam rangka KKN TIM II Universitas Diponegoro 2025/2026. Berangkat dari temuan bahwa sebagian siswa masih memiliki kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik, tulisan ini mengulas bagaimana pembentukan budaya sikat gigi dapat dilakukan melalui edukasi, praktik sikat gigi bersama, serta penggunaan Jurnal “Sikat Gigi Sehatku” sebagai media pembiasaan. Melalui sudut pandang antropologi kesehatan, artikel ini menunjukkan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga dengan kebiasaan dan praktik sosial yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari.

“Mas, ada beberapa anak yang kalau sikat gigi ya di sekolah saja, bahkan orangtuanya datang ke sekolah untuk menitipkan kami agar anaknya sikat gigi”
Kalimat sederhana itu saya dengar saat melakukan koordinasi dengan beberapa guru di SD Negeri Kaliyoso pada awal pelaksanaan program kerja KKN. Sebagai mahasiswa Antropologi di Universitas Diponegoro yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) TIM II 2025/2026 di Desa Kaliyoso, saya awalnya menganggap informasi tersebut sebagai persoalan kesehatan biasa. Namun semakin lama berdiskusi dengan para guru, semakin terlihat bahwa persoalan kesehatan gigi pada anak-anak di sekolah tersebut memiliki dimensi yang lebih luas.
Guru-guru menjelaskan bahwa masih ada siswa yang jarang menyikat gigi, sebagian hanya menyikat gigi sekali sehari sebelum berangkat sekolah, dan ada pula yang masih menggunakan sikat gigi secara bergantian dengan saudara di rumah. Dalam beberapa kasus, orang tua bahkan menitipkan kebiasaan menyikat gigi kepada sekolah karena anak lebih mudah diatur ketika berada di lingkungan belajar.
Temuan tersebut menjadi menarik bagi saya karena memperlihatkan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan layanan medis, melainkan juga dengan kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Di sinilah peran kita yang sangat penting untuk memahami bagaimana suatu perilaku kesehatan terbentuk, diwariskan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Mahasiswa Antropologi Bisa Membahas Sikat Gigi?
Ketika mendengar mahasiswa antropologi mengadakan program tentang sikat gigi, sebagian orang mungkin bertanya-tanya apa hubungan keduanya. Bukankah urusan gigi lebih dekat dengan ilmu kesehatan atau kedokteran?
Pertanyaan tersebut memang wajar. Akan tetapi bagi saya perhatian utama bukan hanya terletak pada penyakit atau kondisi fisik seseorang, melainkan pada bagaimana masyarakat memaknai kesehatan dan membangun kebiasaan yang berkaitan dengannya.
Kesehatan pada dasarnya merupakan hasil dari praktik sosial yang dilakukan secara berulang. Cara seseorang makan, mencuci tangan, mengelola sampah, hingga menyikat gigi merupakan bagian dari kebudayaan yang dipelajari sejak kecil. Oleh karena itu, ketika ditemukan banyak anak yang memiliki gigi berlubang atau kebiasaan menyikat gigi yang belum tepat, persoalannya tidak berhenti pada kondisi giginya saja. Yang perlu dipahami juga adalah bagaimana kebiasaan tersebut terbentuk dan mengapa praktik itu dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sudut pandang inilah program edukasi budaya sikat gigi di SD Negeri Kaliyoso dirancang. Tujuannya bukan sekadar mengajarkan teknik menyikat gigi, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan baru yang lebih sehat bagi anak-anak.
Potret Kesehatan Gigi Anak-Anak di SD Negeri Kaliyoso
Sebelum kegiatan dimulai, saya melakukan pengamatan sederhana selama berinteraksi dengan siswa-siswi. Dalam proses tersebut terlihat bahwa cukup banyak anak yang memiliki gigi berlubang. Sebagian lainnya mengalami perubahan warna pada gigi serta memiliki bau mulut yang cukup kuat ketika berbicara.
Ketika sesi tanya jawab berlangsung, anak-anak secara terbuka menceritakan kebiasaan mereka sehari-hari. Banyak yang mengaku hanya menyikat gigi satu kali dalam sehari, yaitu pada pagi hari sebelum berangkat sekolah. Saat ditanya mengenai kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur, hanya sedikit siswa yang mengaku melakukannya secara rutin.
Fenomena ini sebenarnya tidak unik terjadi di Kaliyoso. Di banyak daerah pedesaan maupun perkotaan, kebiasaan menyikat gigi malam hari sering kali dianggap kurang penting dibandingkan menyikat gigi pada pagi hari. Padahal justru pada malam hari sisa makanan dan gula dapat bertahan lebih lama di dalam rongga mulut sehingga meningkatkan risiko kerusakan gigi.
Selain itu, beberapa siswa juga mengaku masih berbagi sikat gigi dengan anggota keluarga lainnya. Kebiasaan tersebut umumnya dilakukan karena alasan praktis dan dianggap tidak menimbulkan masalah. Padahal penggunaan sikat gigi secara bersama-sama berpotensi meningkatkan risiko perpindahan bakteri dan gangguan kesehatan mulut.
Belajar Mengenal Gigi dengan Cara yang Menyenangkan
Pada tanggal 4 Agustus 2026, kegiatan edukasi kesehatan gigi dilaksanakan di SD Negeri Kaliyoso. Materi disusun menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Kegiatan diawali dengan pengenalan jenis-jenis gigi dan fungsinya. Anak-anak diajak mengenal perbedaan antara gigi seri, gigi taring, dan gigi geraham melalui gambar-gambar yang menarik. Setelah itu, siswa diperlihatkan contoh perbedaan antara gigi yang sehat dan gigi yang mengalami kerusakan.
Pembahasan kemudian dilanjutkan mengenai ciri-ciri gigi sehat, seperti warna gigi yang bersih, gusi yang tidak bengkak, serta tidak adanya rasa sakit ketika mengunyah makanan. Sebaliknya, anak-anak juga dikenalkan pada tanda-tanda gigi yang tidak sehat, seperti gigi berlubang, warna kehitaman, bau mulut, dan rasa nyeri.
Agar suasana tidak membosankan, sesi berlangsung secara interaktif. Anak-anak diberi kesempatan menjawab pertanyaan dan menceritakan pengalaman mereka sendiri mengenai sakit gigi. Tidak sedikit yang mengangkat tangan dan berbagi cerita tentang rasa sakit ketika giginya berlubang atau merasa temannya bau mulut. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak memiliki ketertarikan terhadap kesehatan gigi. Mereka hanya membutuhkan ruang belajar yang menyenangkan dan mudah dipahami.
Praktik Sikat Gigi Bersama di Lapangan Sekolah
Salah satu bagian yang paling dinanti oleh siswa adalah praktik menyikat gigi bersama. Setelah sesi materi selesai, para guru memberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan di lapangan sekolah. Sebelumnya saya sudah berkoordinasi dengan para guru agar siswanya menyiapkan sikat, pasta dan gelas masing-masing siswa.
Dengan membawa sikat dan pasta gigi masing-masing, siswa berbaris rapi mengikuti instruksi yang diberikan. Langkah demi langkah diperagakan mulai dari cara memegang sikat gigi, gerakan menyikat bagian depan dan belakang gigi, hingga cara membersihkan lidah.
Dalam sesi ini juga dijelaskan mengenai jumlah pasta gigi yang tepat untuk anak-anak. Banyak siswa yang sebelumnya mengira bahwa semakin banyak pasta gigi yang digunakan maka semakin bersih pula hasilnya. Padahal penggunaan pasta gigi secukupnya sudah cukup efektif untuk membersihkan gigi.
Praktik bersama tersebut menjadi momen yang sangat menyenangkan. Anak-anak tampak bersemangat mengikuti setiap arahan. Bahkan beberapa siswa saling mengingatkan temannya ketika ada gerakan yang kurang tepat.
Di luar aspek kesehatan, kegiatan ini menunjukkan bagaimana proses belajar dapat berlangsung melalui praktik bersama. Kebiasaan baru lebih mudah dipahami ketika dilakukan secara langsung dibandingkan hanya melalui ceramah semata.
Jurnal Gigi Sehatku: Membangun Kebiasaan dari Rumah
Salah satu tantangan terbesar dalam program kesehatan adalah menjaga keberlanjutan setelah kegiatan selesai. Edukasi satu kali sering kali tidak cukup untuk mengubah perilaku yang telah terbentuk bertahun-tahun.
Karena itulah saya menyusun sebuah media sederhana bernama Jurnal Gigi Sehatku. Buku kecil ini berfungsi sebagai alat pengingat sekaligus media pemantauan kebiasaan menyikat gigi siswa.
Di dalam jurnal terdapat kolom pencatatan kegiatan menyikat gigi pada pagi dan malam hari. Selain itu, terdapat pula kalender sederhana yang dapat diberi tanda setiap kali siswa berhasil menyikat gigi sesuai jadwal. Jurnal ini juga memuat beberapa pesan kesehatan, seperti mengurangi konsumsi makanan manis sebelum tidur, membiasakan minum air putih setelah makan, dan pentingnya menyikat gigi sebelum beristirahat pada malam hari.
Pendekatan ini dipilih karena perubahan perilaku membutuhkan pengulangan. Ketika anak-anak diminta mencatat kebiasaan mereka setiap hari, secara tidak langsung mereka sedang membangun kesadaran terhadap tindakan yang dilakukan.
Ketika Anak-Anak Menunjukkan Perubahan
Beberapa waktu setelah kegiatan berlangsung, saya kembali berkunjung ke SD Negeri Kaliyoso. Kunjungan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjalani KKN.
Sebelum saya sempat memulai percakapan, beberapa siswa langsung menghampiri sambil membawa jurnal yang telah mereka isi. Mereka dengan bangga menunjukkan halaman-halaman yang dipenuhi tanda centang sebagai bukti bahwa mereka telah menyikat gigi secara rutin.
Ada yang bercerita bahwa kini mereka selalu menyikat gigi sebelum tidur. Ada pula yang mengaku mulai mengingatkan adik dan kakaknya di rumah agar ikut menyikat gigi pada malam hari. Bagi sebagian orang, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun dalam perspektif saya, perubahan kecil semacam inilah yang menjadi fondasi terbentuknya budaya baru.
Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari program besar atau kebijakan berskala nasional. Kadang-kadang perubahan hadir melalui tindakan sederhana yang dilakukan berulang kali hingga akhirnya menjadi kebiasaan sehari-hari.
Dari Kebiasaan Menjadi Budaya
Pengalaman di SD Negeri Kaliyoso memberikan pelajaran penting bahwa kesehatan bukan hanya urusan tenaga medis, puskesmas, atau rumah sakit. Kesehatan juga dibentuk oleh kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat.
Ketika seorang anak mulai menyikat gigi sebelum tidur, kemudian mengajak saudaranya melakukan hal yang sama, lalu orang tuanya ikut mengingatkan setiap malam, maka yang sedang terjadi bukan sekadar aktivitas membersihkan gigi. Yang sedang tumbuh adalah sebuah budaya kesehatan.
Program edukasi sikat gigi yang dilaksanakan pada 4 Agustus 2026 mungkin tidak akan langsung menghilangkan seluruh persoalan kesehatan gigi di SD Negeri Kaliyoso. Namun setidaknya program ini telah membuka ruang bagi lahirnya kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih sehat.
Sebagai mahasiswa antropologi, saya belajar bahwa perubahan sosial sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang tampak sepele. Dan di SD Negeri Kaliyoso, perubahan itu mungkin sedang dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebatang sikat gigi, sebuah jurnal kecil, dan semangat anak-anak untuk menjaga senyum mereka tetap sehat.


