Ketika Sikat Gigi Menjadi Budaya: Catatan Antropologi Kesehatan dari SD Negeri Kaliyoso

Berita ini mengangkat pengalaman pelaksanaan program edukasi kesehatan gigi dan mulut di SD Negeri Kaliyoso, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, yang dilakukan dalam rangka KKN TIM II Universitas Diponegoro 2025/2026. Berangkat dari temuan bahwa sebagian siswa masih memiliki kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik, tulisan ini mengulas bagaimana pembentukan budaya sikat gigi dapat dilakukan melalui edukasi, praktik sikat gigi bersama, serta penggunaan Jurnal “Sikat Gigi Sehatku” sebagai media pembiasaan. Melalui sudut pandang antropologi kesehatan, artikel ini menunjukkan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga dengan kebiasaan dan praktik sosial yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari.

WhatsApp-Image-2026-08-22-at-17.51.47

Siswa SDN Kaliyoso berfoto memperlihatkan jurnal gigi sehatku yang diterima dari mahasiswa KKN Undip

Bestarinesia.id, Kendal — “Mas, ada beberapa anak yang kalau sikat gigi ya di sekolah saja. Bahkan orangtuanya datang ke sekolah untuk menitipkan kami agar anaknya sikat gigi.”

Pernyataan seorang guru SD Negeri Kaliyoso, Desa Kaliyoso, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, itu menjadi titik awal mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) melihat persoalan kesehatan gigi anak dari sisi yang lebih luas.

Kebiasaan menyikat gigi yang belum teratur ternyata tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai kesehatan gigi. Di baliknya terdapat kebiasaan keluarga, pola pengasuhan, lingkungan sekolah, hingga cara anak memahami pentingnya menjaga kesehatan.

Temuan tersebut kemudian mendorong mahasiswa Antropologi Undip yang menjalankan KKN di Desa Kaliyoso untuk menggelar edukasi budaya sikat gigi bagi siswa SD Negeri Kaliyoso pada 4 Agustus 2026.

Program tersebut tidak hanya mengenalkan cara menyikat gigi yang benar, tetapi juga berupaya membangun kebiasaan sehat melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Melihat Kesehatan dari Kebiasaan Sehari-hari

Dalam koordinasi awal dengan guru, mahasiswa menemukan sejumlah kebiasaan siswa yang masih perlu mendapat perhatian. Sebagian siswa mengaku hanya menyikat gigi sekali sehari, umumnya pada pagi hari sebelum berangkat sekolah.

Kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur juga belum dilakukan secara rutin oleh sebagian siswa. Dalam beberapa kasus, terdapat anak yang masih menggunakan sikat gigi secara bergantian dengan anggota keluarga.

Bagi mahasiswa Antropologi, kondisi tersebut menarik untuk dilihat bukan semata-mata sebagai persoalan kesehatan gigi, melainkan sebagai bagian dari praktik sosial yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Cara seseorang makan, mencuci tangan, menjaga kebersihan tubuh, hingga menyikat gigi merupakan kebiasaan yang dipelajari sejak kecil dan dapat dipengaruhi lingkungan tempat seseorang tumbuh.

Karena itu, edukasi kesehatan gigi dalam program tersebut diarahkan tidak hanya pada penyampaian informasi, tetapi juga pada upaya mengenalkan kebiasaan baru yang dapat diterapkan secara berulang.

Mengenal Gigi Lewat Cara yang Menyenangkan

Kegiatan edukasi dimulai dengan pengenalan jenis dan fungsi gigi. Siswa diajak mengenali gigi seri, gigi taring, dan gigi geraham menggunakan gambar yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak sekolah dasar.

Mahasiswa juga memperlihatkan perbedaan antara gigi sehat dan gigi yang mengalami kerusakan. Siswa dikenalkan dengan sejumlah tanda yang perlu diperhatikan, seperti gigi berlubang, perubahan warna, bau mulut, serta rasa sakit ketika mengunyah.

Penyampaian materi dilakukan secara interaktif. Siswa diberi kesempatan menjawab pertanyaan sekaligus menceritakan pengalaman mereka ketika mengalami sakit gigi.

Sejumlah siswa antusias mengangkat tangan dan berbagi cerita. Ada yang pernah merasakan sakit akibat gigi berlubang, sementara yang lain menceritakan pengalaman ketika harus berhadapan dengan masalah kebersihan gigi.

Interaksi tersebut membuat pembelajaran tidak berlangsung satu arah. Anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga menghubungkan materi dengan pengalaman yang mereka alami sendiri.

Mahasiswa edukasi siswa untuk menjaga kesehatan gigi

Praktik Sikat Gigi Bersama

Setelah mendapatkan materi, siswa mengikuti praktik menyikat gigi bersama di lapangan sekolah. Sebelumnya, mahasiswa berkoordinasi dengan guru agar setiap siswa membawa sikat gigi, pasta gigi, dan gelas masing-masing.

Mahasiswa kemudian memperagakan tahapan menyikat gigi, mulai dari cara memegang sikat hingga membersihkan bagian depan, belakang, dan permukaan gigi. Siswa juga diperkenalkan pada cara membersihkan lidah.

Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Mereka dapat mencoba gerakan yang sebelumnya hanya dijelaskan melalui materi.

Suasana kegiatan pun berlangsung lebih cair. Siswa tampak bersemangat mengikuti arahan, bahkan beberapa di antaranya saling mengingatkan ketika melihat gerakan temannya belum tepat.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai kesehatan dapat lebih mudah diterima anak ketika disampaikan melalui aktivitas yang melibatkan mereka secara langsung.

Siswa melakukan praktik cara sikat gigi yang benar dengan pendampingan mahasiswa

Jurnal untuk Menjaga Kebiasaan

Edukasi yang hanya dilakukan satu kali dinilai belum cukup untuk membentuk kebiasaan yang sebelumnya belum terbentuk. Karena itu, mahasiswa memperkenalkan “Jurnal Gigi Sehatku” sebagai media pengingat sekaligus pencatatan kebiasaan menyikat gigi.

Jurnal tersebut memuat kolom untuk mencatat kegiatan menyikat gigi pada pagi dan malam hari. Siswa dapat memberikan tanda setiap kali berhasil menjalankan kebiasaan tersebut.

Selain pencatatan, jurnal dilengkapi pesan kesehatan sederhana, seperti membatasi konsumsi makanan manis sebelum tidur, membiasakan minum air putih setelah makan, serta menyikat gigi sebelum tidur.

Media tersebut diharapkan membantu anak mengenali kebiasaan mereka sendiri. Dengan melakukan pencatatan secara berulang, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar memperhatikan perilaku yang mereka lakukan setiap hari.

Perubahan Kecil di Lingkungan Sekolah

Beberapa waktu setelah kegiatan berlangsung, mahasiswa kembali mengunjungi SD Negeri Kaliyoso. Sejumlah siswa menunjukkan jurnal yang telah mereka isi.

Beberapa siswa mengaku mulai membiasakan diri menyikat gigi sebelum tidur. Ada pula yang mengatakan mulai mengingatkan anggota keluarga di rumah untuk melakukan kebiasaan serupa.

Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi mahasiswa, pengalaman itu menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kebiasaan yang awalnya diperkenalkan di sekolah kemudian berpotensi dibawa ke lingkungan keluarga. Ketika anak mulai mengingatkan saudara atau orangtuanya, praktik menjaga kesehatan gigi tidak lagi berhenti pada individu, tetapi mulai masuk ke lingkungan sosial terdekat.

Dari Kebiasaan Menjadi Budaya

Program edukasi kesehatan gigi di SD Negeri Kaliyoso menjadi pengalaman bagi mahasiswa KKN Undip untuk melihat bahwa persoalan kesehatan juga memiliki dimensi sosial dan budaya.

Kesehatan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya layanan medis, tetapi juga oleh kebiasaan yang dibentuk dan dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Menyikat gigi sebelum tidur mungkin merupakan tindakan sederhana. Namun ketika dilakukan secara rutin, diingatkan oleh orangtua, dan menjadi kebiasaan bersama di lingkungan keluarga, tindakan tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari budaya hidup sehat.

Program yang dilaksanakan mahasiswa KKN Undip tersebut mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan gigi siswa. Namun, edukasi, praktik bersama, dan penggunaan Jurnal Gigi Sehatku menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kebiasaan yang dapat terus dilakukan setelah kegiatan berakhir.

Pada akhirnya, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Di SD Negeri Kaliyoso, perubahan itu berusaha ditanamkan melalui hal sederhana: mengajarkan anak untuk mengenal giginya, merawatnya, dan menjadikan menyikat gigi sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.

 

Penulis: Gabrielle Budi Ardhanareswara

Editor: Azis