Diversifikasi Pangan di Desa Jetis: Mahasiswa KKN Undip Memanfaatkan Pisang Kepok untuk Tape Pisang Ramah Hipertensi

0
Pict 1

Mahasiswa berfoto bersama Ibu-ibu PKK setelah demonstrasi pembuatan tape berbahan pisang kepok di Gedung PKK Desa Jetis

Bestarinesia.id, Klaten — Pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi salah satu cara untuk memperluas pilihan makanan di tingkat rumah tangga. Hal tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui penyuluhan pembuatan tape pisang kepok kepada anggota PKK Desa Jetis, Sabtu (31/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung PKK Desa Jetis tersebut diikuti puluhan ibu-ibu PKK. Mahasiswa dari Program Studi Teknologi Pangan memberikan demonstrasi sekaligus menjelaskan tahapan pengolahan pisang kepok menjadi tape yang dapat dibuat dalam skala rumah tangga.

Pisang kepok dipilih karena tanaman tersebut banyak dijumpai di pekarangan warga Desa Jetis. Selama ini, pemanfaatan pisang kepok di masyarakat masih relatif sederhana, antara lain dengan cara direbus atau digoreng. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa memilih pengolahan tape sebagai alternatif diversifikasi pangan.

Gagasan tersebut juga berkaitan dengan kondisi kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil komunikasi mahasiswa dengan kader kesehatan desa, terdapat warga yang memiliki riwayat hipertensi dan perlu memperhatikan pola makan sehari-hari. Karena itu, penyuluhan tidak hanya memperkenalkan cara mengolah bahan pangan lokal, tetapi juga mengajak warga mengenali pilihan makanan yang dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih beragam.

Proses pembuatan tape dari pisang kepok

Pisang kepok sendiri mengandung kalium yang merupakan salah satu mineral yang berperan dalam menjaga fungsi tubuh. Namun, pengolahan tape dalam kegiatan ini ditujukan sebagai alternatif makanan rumah tangga dan bukan sebagai pengganti pengobatan atau terapi bagi penderita hipertensi.

Dalam penyuluhan, mahasiswa menjelaskan bahwa pembuatan tape pisang tidak membutuhkan bahan yang rumit. Bahan utama yang digunakan adalah pisang kepok dan ragi tape. Proses pembuatannya meliputi pemilihan tingkat kematangan pisang, pengukusan, pendinginan, pemberian ragi, dan fermentasi.

Mahasiswa juga memberikan sejumlah tips agar proses fermentasi dapat berlangsung dengan baik. Peserta diperkenalkan pada pemilihan pisang yang tidak terlalu mentah maupun terlalu matang, teknik pengukusan agar tekstur pisang tetap sesuai, serta penggunaan ragi dengan takaran yang tepat.

“Wah, ternyata bikinnya gampang banget ya, hanya butuh pisang kepok dan ragi tape saja. Rasanya juga legit seperti tape singkong dan manisnya alami, padahal tidak pakai gula sama sekali. Cocok banget ini buat camilan di rumah,” ujar Tari, salah satu anggota PKK Desa Jetis, setelah mencicipi tape pisang yang telah dibuat.

Pembuatan tape dilakukan melalui proses fermentasi. Dalam proses tersebut, mikroorganisme pada ragi membantu mengubah sebagian karbohidrat dalam bahan menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga menghasilkan karakteristik rasa dan aroma khas tape.

Mahasiswa menekankan bahwa kegiatan tersebut ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. Dengan bahan yang mudah diperoleh dan tahapan yang relatif sederhana, warga dapat mencoba mengolah pisang kepok menjadi produk pangan alternatif di rumah masing-masing.

Foto salah satu Ibu PKK sedang mencicipi tape dari bahan pisang kepok

Respons peserta terhadap kegiatan tersebut terlihat dari antusiasme mereka selama demonstrasi dan sesi mencicipi hasil olahan. Bagi warga, pengolahan tape menjadi salah satu alternatif untuk memanfaatkan pisang kepok yang tersedia di sekitar rumah.

Selain memberikan alternatif pengolahan pangan, kegiatan tersebut juga memperkenalkan konsep diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. Pisang kepok yang sebelumnya lebih banyak diolah dengan cara sederhana dapat dikembangkan menjadi produk dengan bentuk dan cita rasa yang berbeda.

Program tersebut juga dikaitkan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pemanfaatan bahan pangan lokal dan pengenalan berbagai pilihan pangan mendukung SDG 2 mengenai pengentasan kelaparan dan peningkatan kualitas gizi. Sementara itu, edukasi mengenai pilihan pangan dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Undip memperkenalkan bahwa diversifikasi pangan dapat dimulai dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Pengolahan sederhana di tingkat rumah tangga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pemanfaatan pangan lokal sekaligus menambah pilihan makanan bagi keluarga.

Penulis: Raveina Salwa, Tim II KKN Undip Desa Jetis

Editor: Azis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *