Dari Gagasan Digital hingga Panggung Internasional, Dita Bawa Inovasi Pendidikan Indonesia ke Malaysia

Dita Ayu Anggreini saat menyampaikan gagasan inovasi pendidikan digital dalam forum International SDGs Youth Development Program di Kuala Lumpur, Malaysia.
Bestarinesia.id, Kuala Lumpur — Di hadapan peserta dari berbagai daerah, Dita Ayu Anggreini membawa satu gagasan tentang persoalan yang cukup dekat dengan dunia anak-anak: bagaimana membuat matematika menjadi pelajaran yang lebih menyenangkan.
Gagasan itu bernama My Octalearn, konsep fitur aplikasi pembelajaran matematika yang dikembangkan Dita bersama enam anggota tim dalam ajang International SDGs Youth Development Program di Kuala Lumpur, Malaysia.
Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga, tersebut menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam program yang diselenggarakan International Youth Excursion Network (IYEN). Program itu mengangkat tema Youth Digital Solutions for Sustainable Development Goals.
Dita tidak hanya hadir sebagai peserta. Ia juga berhasil meraih predikat 2nd Best Speaker setelah menyampaikan gagasan di hadapan peserta dan panel penilai dalam forum internasional tersebut.
Penghargaan itu menjadi pengakuan atas kemampuannya menyampaikan gagasan secara kritis, komunikatif, dan solutif. Namun, bagi Dita dan timnya, ada persoalan yang lebih besar yang ingin mereka jawab melalui gagasan yang dibawa ke forum tersebut.

Mengubah Matematika Menjadi Lebih Menyenangkan
Matematika bagi sebagian anak masih identik dengan angka, rumus, dan soal-soal yang dianggap sulit. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketertarikan anak untuk belajar.
Berangkat dari persoalan itu, Dita bersama enam anggota tim mengembangkan My Octalearn. Konsep tersebut dirancang sebagai fitur pembelajaran matematika yang memadukan materi pelajaran dengan unsur permainan dan audiovisual.
Pendekatan yang digunakan berupa gamifikasi atau game-based learning. Materi matematika dikemas melalui aktivitas yang menyerupai permainan dan dipadukan dengan film serta animasi.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi. Anak juga diajak berinteraksi dengan materi melalui pengalaman belajar yang lebih menarik dan menyenangkan.
Gagasan itu kemudian dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat, yakni pendidikan bermutu atau Quality Education.
Dita dan tim melihat teknologi digital bukan sekadar sarana untuk menyajikan materi pelajaran dalam bentuk layar. Teknologi dapat menjadi medium untuk menghadirkan cara belajar yang lebih sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak.
Meski demikian, My Octalearn belum merupakan aplikasi yang dapat digunakan secara umum. Saat ini, gagasan tersebut masih berada pada tahap purwarupa yang dipresentasikan dan diuji dalam rangkaian program di Kuala Lumpur.
Dengan demikian, My Octalearn belum tersedia untuk diunduh masyarakat melalui toko aplikasi seperti Play Store.

Membawa Gagasan dari Kampus ke Forum Internasional
Keikutsertaan Dita dalam International SDGs Youth Development Program menjadi pengalaman yang mempertemukan gagasan pendidikan, teknologi digital, dan pembangunan berkelanjutan.
Forum tersebut juga mempertemukan peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang dan gagasan yang beragam. Pertemuan itu menjadi ruang bagi para peserta untuk bertukar pandangan mengenai persoalan yang dihadapi generasi muda serta kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan.
Dita memilih membawa isu pendidikan melalui gagasan My Octalearn. Ia dan tim berupaya menunjukkan bahwa persoalan rendahnya minat belajar dapat didekati melalui pemanfaatan teknologi yang kreatif dan kolaboratif.
Pengalaman tersebut sekaligus memberi kesempatan kepada Dita untuk memperluas jejaring dengan peserta dari berbagai daerah dan mengenal perspektif yang lebih luas mengenai isu pembangunan berkelanjutan.
Predikat 2nd Best Speaker yang diraih Dita menjadi salah satu capaian dalam perjalanan tersebut. Penghargaan itu menunjukkan bahwa gagasan mahasiswa Indonesia dapat memperoleh ruang untuk disampaikan dan diapresiasi dalam forum internasional.
Lebih dari sebuah penghargaan, pengalaman di Kuala Lumpur memperlihatkan bagaimana persoalan yang berangkat dari ruang pendidikan dapat dibawa ke ruang diskusi global.
My Octalearn mungkin masih berupa purwarupa. Namun, gagasan di baliknya berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana teknologi dapat membuat anak lebih tertarik untuk belajar.
Dari pertanyaan sederhana itu, Dita dan tim mencoba menghadirkan sebuah jawaban melalui inovasi digital. Kali ini, gagasan tersebut dibawa dari ruang kampus ke panggung internasional.
Editor: Azis
