Dari Singkong hingga Jelantah, KKN UNS 136 Dorong Warga Bandungan Manfaatkan Potensi Lokal

0
IMG-20260915-WA0028

Bestarinesia.id, Klaten — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 136 mengajak warga Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka. Singkong diolah menjadi tepung setengah jadi, sedangkan minyak jelantah dimanfaatkan menjadi lilin aromaterapi.

Kedua program tersebut dilaksanakan selama periode KKN pada Juli hingga Agustus 2026. Gagasan itu berangkat dari kondisi di Desa Bandungan yang memiliki potensi hasil bumi sekaligus persoalan limbah rumah tangga yang dapat diolah kembali.

“Kami melihat ada dua hal yang sebenarnya dekat dengan kehidupan warga, yaitu singkong sebagai potensi lokal dan minyak jelantah sebagai limbah rumah tangga. Keduanya kami coba olah agar memiliki nilai guna yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Eki, salah satu anggota KKN UNS Kelompok 136.

Singkong menjadi salah satu bahan yang dipilih karena ketersediaannya di lingkungan desa. Selama ini, sebagian singkong masih dijual dalam bentuk mentah. Cara tersebut membuat nilai tambah yang diperoleh warga relatif terbatas dan singkong juga memiliki masa simpan yang tidak panjang.

Melalui pelatihan, mahasiswa memperkenalkan pengolahan singkong menjadi tepung setengah jadi. Bentuk olahan tersebut memungkinkan singkong disimpan lebih lama sekaligus digunakan sebagai bahan untuk berbagai jenis makanan.

“Harapannya, warga tidak hanya melihat singkong sebagai hasil panen yang langsung dijual. Dengan pengolahan sederhana, singkong bisa memiliki masa simpan lebih panjang dan mempunyai nilai tambah,” kata Eki.

Program lainnya menyasar minyak goreng bekas. Minyak jelantah yang biasanya dibuang setelah digunakan dikumpulkan untuk kemudian diolah menjadi lilin aromaterapi.

Sebelum digunakan sebagai bahan, minyak jelantah terlebih dahulu melalui proses penyaringan. Setelah itu, minyak dicampurkan dengan bahan pendukung hingga dapat dibentuk menjadi lilin aromaterapi.

Menurut beberapa warga, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi warga dalam memanfaatkan barang yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

“Sebelumnya kami menganggap minyak jelantah hanya sebagai minyak bekas yang sudah tidak bisa digunakan. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami jadi tahu bahwa minyak tersebut masih bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya salah satu warga.

Bagi mahasiswa, pengolahan minyak jelantah juga berkaitan dengan persoalan lingkungan. Pembuangan minyak secara sembarangan berpotensi menimbulkan persoalan bagi lingkungan sehingga diperlukan alternatif pemanfaatan.

“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada pembuatan produknya saja. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan untuk memilah dan memanfaatkan limbah rumah tangga sebelum membuangnya,” ujar Eki.

Dua program tersebut mempertemukan upaya pemanfaatan sumber daya lokal dengan pengelolaan limbah rumah tangga. Singkong yang sebelumnya dijual dalam bentuk mentah diberi nilai tambah melalui pengolahan, sedangkan minyak jelantah dimanfaatkan menjadi produk kerajinan.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pengetahuan praktis yang tetap dapat diterapkan warga setelah masa KKN berakhir.

“Kami berharap pengetahuan yang dibagikan selama KKN bisa diteruskan warga. Tidak harus dalam bentuk usaha besar, tetapi setidaknya masyarakat memiliki pilihan untuk mengolah apa yang tersedia di sekitarnya agar lebih bermanfaat,” tutup eki.

Bagi mahasiswa KKN UNS Kelompok 136, pengalaman di Desa Bandungan menunjukkan bahwa solusi atas persoalan masyarakat tidak selalu harus datang dari sesuatu yang baru. Potensi yang sudah tersedia di sekitar warga pun dapat menjadi titik awal untuk membangun kemandirian, ketika diolah dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat.

 

 

Editor: Azis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *