IPMAFA Bekali 225 Mahasiswa Sebelum Terjun ke Masyarakat

0
IMG-20260929-WA0012

Bestarinesia.id, Pati –  Sebanyak 225 mahasiswa Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) dibekali pengetahuan dan keterampilan sebelum menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tengah masyarakat. Pembekalan menjadi tahap awal bagi mahasiswa untuk mengenali kondisi wilayah, menggali potensi lokal, sekaligus menyiapkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pembekalan KKN berlangsung di Aula 2 Kampus IPMAFA, Selasa (29/9/2026). Setelah pembekalan, para mahasiswa akan menjalani KKN selama sekitar 40 hari di Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, dan Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.

Wakil Rektor I Bidang Akademik IPMAFA, Dr. Ahmad Dimyati, M.Ag., mengatakan KKN merupakan ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dari masyarakat. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya membawa pengetahuan yang diperoleh di kampus, tetapi juga perlu memahami karakter dan kondisi sosial di lokasi penugasan.

“Teori tidak akan memberikan manfaat yang banyak apabila teman-teman tidak memahami kondisi lokasi. Karena itu, mulai dengan survei, temukan aset, potensi, dan data yang ada di masyarakat,” ujar Ahmad.

Menurut dia, mahasiswa perlu memperbanyak interaksi dengan masyarakat untuk memperoleh informasi yang lebih utuh mengenai persoalan dan potensi di setiap wilayah. Kolaborasi antarkelompok serta komunikasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) juga menjadi bagian penting selama pelaksanaan KKN.

Sementara itu, Camat Margorejo sekaligus pemateri KKN, Priyono Arief Fadhilah, S.Kom., M.M., memaparkan kondisi wilayah yang akan menjadi lokasi pengabdian mahasiswa. Kecamatan Margorejo memiliki 18 desa dengan beragam potensi, mulai dari pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur dan aksesibilitas.

Mahasiswa juga diminta memperhatikan kondisi geografis dan lingkungan setempat. Hal tersebut terutama penting ketika memasuki musim hujan karena sejumlah wilayah, termasuk Desa Jimbaran, memiliki potensi genangan atau limpasan air.

“Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan kondisi di lapangan, mengikuti adat istiadat desa, serta membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan pemerintah desa,” kata Priyono.

Sedangkan dari Kecamatan Bangsri, Jepara, pemateri Mahardiyan Ardiyanto, S.Kep., M.Kes., menjelaskan kondisi demografi dan potensi desa yang akan menjadi lokasi KKN. Sejumlah potensi yang dapat dikembangkan antara lain kopi, UMKM, buah-buahan, pertanian, kawasan pantai, serta wilayah pegunungan.

Potensi tersebut, menurut Mahardiyan, dapat dikembangkan bersama masyarakat, termasuk dalam bidang pariwisata. Mahasiswa diharapkan tidak sekadar membuat program berdasarkan gagasan dari kampus, tetapi terlebih dahulu melihat sumber daya yang telah dimiliki masyarakat.

Pendekatan berbasis aset menjadi salah satu ciri KKN IPMAFA tahun ini. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPMAFA, M. Lutfi Hakim, M.H., menjelaskan mahasiswa akan menerapkan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD).

Pendekatan tersebut menempatkan aset dan potensi yang telah dimiliki masyarakat sebagai titik awal penyusunan program. Pelaksanaannya mencakup lima bidang utama, yakni pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan sosial-keagamaan.

“Mahasiswa akan dibekali terlebih dahulu oleh trainer yang telah ditentukan agar program KKN yang dirancang dapat memberikan dampak dan manfaat bagi masyarakat,” ujar Lutfi.

Pelaksanaan KKN IPMAFA dibagi dalam tiga tahapan, yakni pra-KKN, live in, dan pasca-KKN. Pada tahap pra-KKN, mahasiswa mengikuti pembekalan, observasi, diskusi kelompok terarah atau FGD, serta penyusunan dan presentasi program.

Tahap live in mencakup penerjunan mahasiswa, lokakarya mini, pelaksanaan program, pengumpulan data, dan penyusunan laporan. Adapun tahap pasca-KKN diisi dengan penyusunan laporan individu dan kelompok serta presentasi hasil pelaksanaan program.

Selain keterampilan teknis, pembekalan juga menyentuh persoalan etika bermedia dan bermasyarakat. Materi etika bermedia disampaikan Siti Asyiah, M.Sos. Mahasiswa diingatkan untuk menggunakan media sosial secara bijak, termasuk menerapkan prinsip menyaring informasi sebelum membagikannya.

Mahasiswa juga dikenalkan dengan dasar-dasar jurnalistik, terutama pemahaman terhadap unsur 5W+1H dalam penulisan berita. Keterampilan tersebut diharapkan membantu mahasiswa mendokumentasikan berbagai kegiatan dan potensi masyarakat selama KKN.

Pada sesi terakhir, materi keagamaan dan etika bermasyarakat disampaikan Siswanto, M.A. Ia mengingatkan mahasiswa untuk memahami tata krama setempat selama menjalankan tugas pengabdian.

“Budayakan salam, senyum, dan sapa. Hargai dan hormati budaya yang sudah berjalan di masyarakat. Mahasiswa harus mampu menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat selama menjalankan KKN,” ujarnya.

Melalui pembekalan tersebut, IPMAFA menyiapkan mahasiswa agar tidak sekadar menjalankan program kerja, tetapi mampu belajar bersama masyarakat.

Pengenalan potensi lokal, komunikasi, kolaborasi, serta kemampuan menyesuaikan diri menjadi bekal penting agar kehadiran mahasiswa selama sekitar 40 hari dapat memberikan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *